Geliat Harga Di Tengah Kisruh KPK - Polri (11/11/2009)
Kisruh KPK-Polri, mendominasi pemberitaan berbagai media pekan ini. Sentimen perekonomian berbalik menjadi negatif merespon kisruh tersebut. Pasar finansial berguncang, sekalipun capaian inflasi rendah berhasil ditorehkan pada sepanjang bulan Oktober sebelumnya. Momentum rutin meroketnya harga minyak dunia menjelang akhir tahun, sepertinya sangat terbatas dampak positifnya di penghujung tahun ini. Kita semua berharap, kisruh ini tidak berlarut lama yang mengancam stabilitas Sosio-politik bangsa kita. Sentimen negatif juga melanda di pasar unggas Nasional. Baik broiler maupun telur, minggu ini mengalami pergerakan negatif. Khusus untuk broiler, beberapa pengamat yang ditemui redaksi menyebutkan, penurunan harga jual nampaknya akan berlangsung lebih dari sepekan. Hal ini didasarkan pada sepinya tingkat permintaan berbanding dengan sisi pasok yang konstan.
Dari berbagai laporan yang masuk, harga yang ditetapkan juga mengalami potongan di lapangan. Secara teoritis, rentang perbedaan harga jual antar ukuran, masih menunjukkan kuatnya harga jual. Namun berbagai laporan menyebutkan adanya potongan yang cukup bervariasi. Sementara harga jual DOC, masih tercatat stabil di Rp.3.600,-/ekor, ini menunjukkan sisi pasok yang juga stabil.
Saat tulisan ini disebar, tercatat harga jual broiler di pasar DKI ex-farm ukuran >1.6Kg., Rp.13.500,-/Kg., yang berarti melemah sebesar Rp. 600,- dari minggu lalu. Laporan dari area pemantauan lainnya juga menunjukkan pergerakan negatif, seperti Medan Rp.11.500,-/Kg., Surabaya Rp.12.600,-/Kg., serta Samarinda Rp.17.000,-/Kg. Secara keseluruhan, trend negatif terlihat jelas pada tabel di samping. Trend harga jual negatif, sangat mungkin akan terhambat pada setidaknya dua pekan mendatang oleh sebab jatuhnya kalender tradisional, Lebaran Haji. Sementara pekan-pekan depan, harga jual diperkirakan masih bergejolak alias konsolidatif.
Akan halnya dengan pasar telur, pergerakan harga jual negatif masih berlangsung hingga minggu ini. Pergerakan harga jual yang berada di kisaran bawah ini, dalam pantauan redaksi sudah melebihi sembilan pekan lamanya. Peternak Layer, dipastikan mengalami harga jual telur yang dibawah harga pokok produksi pada dua bulan terakhir, alias merugi. Harga jual telur bahkan tergolong irasional dalam dua minggu terakhir, seperti dilaporkan di Solo, yang saat tulisan ini dibuat, berada di Rp.8.000,-/Kg., ex-farm. Sementara di DKI dilaporkan di Rp.9.600,-/Kg., Medan di Rp.400,-/butir, serta Makassar di Rp.9000,-/Kg. Para pelaku bisnis nampaknya belum berhasil menemukan titik cerah kapan berakhirnya masa suram performa harga jual telur ini. Tetapi tentu, kalender tradisional dua-tiga minggu kedepan bisa dijadikan harapan, sekalipun terbatas. Satu hal yang perlu diingat, tak ada situasi yang tak berpengharapan. Harapan itu pasti dan selalu ada. Yakinlah!