Kinerja Harga Yang Kontras Dengan Kinerja Ekonomi (18/01/2010)

Pekan ketiga tahun 2010 telah tiba. Pergerakan pasar unggas Nasional terpantau stagnan. Setidaknya hal ini terindikasi dari pergerakan harga jual. Satu kabar kurang sedap datang dari kajian yang dirilis ekonom INDEF beberapa waktu lalu. Hasil kajian menyebutkan: kenaikan tingkat konsumsi yang terjadi pada periode sepanjang 2009 lalu, di tengah kepungan krisis finansial global, bukanlah indikator dari peningkatan daya beli masyarakat konsumen. Hal ini ditunjang petunjuk lainnya, serapan kartu kredit yang meningkat signifikan dan teriring kenaikan suku bunga kartu kredit di tengah arus penurunan suku bunga SBI. Akhirnya disimpulkan, peningkatan konsumsi yang terjadi sepanjang tahun 2009 lalu, memiliki dasar yang rapuh alias rentan dan tidak lestari.
Kabar suram ini, kiranya perlu mendapat perhatian pelaku bisnis unggas untuk tidak terjebak pada eforia berlebihan pada pemulihan perekonomian global yang akhir-akhir ini kian banyak diyakini. Sekalipun demikian, tetap saja perekonomian Nasional tahun ini lebih berpengharapan dari tahun lalu. Dengan latar demikian, pergerakan harga jual broiler dua pekan pertama tahun ini, sedikit mulai bisa dipahami. Tetapi untuk mengukur dampak dari fundamen rentan kenaikan tingkat konsumsi terhadap pasar unggas yang relatif stagnan dalam empat tahun terakhir, nampaknya perlu pengkajian secara lebih mendalam lagi. Adapun secara tekhnis grafis, pergerakan positif mestinya mulai nampak. Hal ini seiring dengan keyakinan beberapa pelaku bisnis bahwa penguatan harga jual mungkin akan terjadi dalam jangka yang tidak terlalu lama lagi.
Minggu ini, harga jual broiler ex-farm ukuran >1.6Kg., tercatat di Rp.11.200,-/Kg., yang berarti naik Rp.1.200,- dibanding minggu sebelumnya. Secara Nasional, pergerakan harga jual cenderung stagnan dengan pelemahan tipis. Sebagaimana terpantau pasar sepanjang Sumatera yang bergerak bervariasi, Jawa tengah dan timur turun secara tragis, Kalimantan cenderung menurun, Sulawesi bergerak positif, serta Bali yang dilaporkan bergerak naik signifikan. Pekan depan, harga jual diyakini akan mulai menapaki pergerakan positif.
Tidak jauh berbeda dengan performa harga jual telur minggu ini. Harga jual masih tercatat stagnan dibanding minggu lalu. Tanda-tanda penurunan yang lemah pada minggu ini, menumbuhkan keyakinan akan kenaikan harga jual pada dua-tiga minggu mendatang. Sangat dimungkinkan, kenaikan harga jual telur akan bergerak signifikan. Setidaknya, hal ini didasarkan pada indikator derasnya arus afkir layer hingga menyentuh harga Rp.9.000,-/Kg., ex-farm. Sementara laporan harga jual telur di pasar DKI tercatat di Rp.10.300,-/Kg., ex-farm, yang berarti naik Rp.100,- dari minggu lalu.
Untuk area pemantauan lainnya menyebutkan, Medan bergerak naik di Rp.700,-/butir, sepanjang Sumatera terpantau stabil dengan kecenderungan menguat, Jawa barat-Banten stabil, Sulawesi dan Kalimantan bervariasi, dan akhirnya Jawa tengah yang mulai menunjukkan kenaikan harga. Untuk Jawa timur, pergerakan harga jual telur dilaporkan cenderung menurun tipis dari minggu lalu. Minggu depan, secara Nasional, harga jual diharapkan mengalami pergerakan positif meski dalam taraf terbatas. Beberapa pelaku bisnis telur juga sangat yakin, kenaikan harga jual telur akan terjadi. Akankah harapan ini terpenuhi? Mari kita tunggu.


User login

5 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Syndicate

Syndicate content