Broiler Pulih, Telur Masih Tertekan (11/2/2010)
Tahun baru Imlek, sebentar lagi tiba. Sentimen positif diharapkan muncul untuk mendongkrak tingkat permintaan unggas. Di tengah kabar mencemaskan berlakunya ASEAN-China FTA serta daya saing Nasional yang stagnan, sentimen positif dari perayaan Imlek patutlah diharapkan. Menutup catatan tragis performa harga jual broiler minggu lalu, pelaku bisnis broiler pada akhir minggu ini bisa sedikit bernafas lega. Kenaikan harga jual memang masih belum memuaskan, tetapi setidaknya telah beranjak di kisaran harga jual keekonomian. Dari beberapa laporan menyebutkan, menguatnya tingkat permintaan yang dirangsang oleh penurunan secara signifikan sisi pasok. Pekan depan, hampir dapat dipastikan performa harga jual broiler akan kembali melanjutkan pergerakan positif. Hal ini sekaligus mengakhiri trend negatif yang telah berlangsung selama lima minggu sebelumnya. Praktis, satu minggu terakhir adalah titik nadir yang mencemaskan dari pergerakan harga jual negatif periode lima pekan-an.
Kenaikan harga jual broiler terjadi secara merata di hampir seluruh area pemantauan. Pasar sepanjang Sumatera misalnya, saat tulisan ini sedang diedar, mencatat pergerakan bervariasi dengan kecenderungan menaik seperti Medan yang tercatat berada di Rp.13.000,-/Kg., ex-farm ukuran >1.6Kg., dan Padang Rp.12.000,-/Kg. Secara umum pasar sepanjang Sumatera bergerak stabil minggu ini. Sementara pasar DKI dilaporkan mencatat harga jual di Rp.13000,-/Kg., atau menaik signifikan sebesar Rp.4.500,- dari minggu sebelumnya. Pantauan untuk pasar Jawa barat-Banten menunjukkan pergerakan harga jual yang naik. Sedangkan laporan dari area pemantauan Jawa tengah dan timur juga serupa, rata-rata mengalami kenaikan sebesar lebih dari Rp.2.000,-an dari minggu sebelumnya.
Pada pekan depan, diperkirakan harga jual masih akan melanjutkan pergerakan positif. Hal ini sejalan dengan terbatasnya pasok ditengah sentimen kenaikan harga jual berbagai komoditas pangan.
Pemulihan harga jual juga terjadi pada pasar telur Nasional, namun masih lamban. Pada laporan terakhir minggu ini, harga jual telur ex-farm tercatat di Rp.10.400,-/Kg., untuk pasar DKI. Sekilas terjadi kenaikan harga jual yang cukup melegakan. Namun dari pantauan sepanjang pekan ini, harga jual di pasar DKI dilaporkan sempat menyentuh Rp.9.600,-/Kg., selama setidaknya dua hari berturut. Laporan mulai terbatasnya pasok, nampaknya kurang banyak dipahami oleh pelaku bisnis telur. Indikator harga jual afkir layer bahkan telah menyentuh Rp.8.000,-/Kg., sebuah catatan harga terendah dalam dua tahun terakhir. Pekan depan, pergerakan harga jual telur tidak memiliki pilihan lain kecuali naik secara signifikan.
Sementara laporan dari pasar telur sepanjang Sumatera justru menunjukkan pergerakan menurun dengan Medan mencatatkan harga jual di Rp.650,-/butir yang berarti menurun sebesar Rp.70,- dari minggu sebelumnya. Pasar sepanjang Jawa tengah-timur dan barat menampakkan penurunan yang terbatas, sebuah petunjuk menuju kenaikan. Sedangkan laporan dari area pemantauan Kalimantan-Sulawesi serta Bali, pergerakan harga jual telur masih bervariasi stabil dibanding minggu lalu. Pada minggu depan, pergerakan harga jual telur secara Nasional, terlebih pasar DKI, hampir dapat dipastikan positif. Risiko tunggal yang mungkin sedikit mengganggu kenaikan harga jual telur hanyalah ketidakpastian yang masih mungkin terjadi di pasar Jawa tengah-timur.