Broiler Kembali Limbung, Telur Masih Merana (15/2/2010)
AC-FTA, mulai berimbas. Perekonomian Nasional dalam tantangan yang tak ringan. Banyak pihak meyakini, akan terjadi banyak gelombang PHK. Konsekuensinya, daya beli akan kembali tertekan serta angka pengangguran dan kemiskinan menanjak. Ditengah mandeknya daya saing industri Nasional, AC-FTA nampaknya akan lebih memberikan dampak buruk ketimbang sebaliknya. Sekalipun Bangsa ini dikaruniai kekayaan alam berlimpah, sepertinya belum tercermin pada tingkat daya saing di kancah perekonomian global. Akhirnya, prospek pertumbuhan perekonomian Nasional yang diperkirakan melejit pada tahun ini, sangat mungkin akan terganggu secara signifikan.
Daya serap pasar Nasional yang diharapkan meningkat di tahun ini, nampaknya juga perlu dievaluasi kembali. Termasuk daya serap pasar Nasional terhadap broiler dan telur. Keyakinan ekspansif yang berlebihan, sangat mungkin menjadi bumerang bagi pelaku bisnis unggas. Seperti halnya nampak dari hasil pemantauan harga jual broiler minggu ini. Kenaikan harga posko memang cukup meyakinkan, tetapi terdapatnya potongan harga di lapangan dalam angka yang cukup signifikan nampaknya perlu dicermati secara serius. Akan tetapi secara umum, pelaku bisnis broiler menampakkan keyakinan yang cukup tinggi mengingat berkurangnya pasok secara signifikan pada dua pekan belakangan. Kenaikan harga jual parent afkir secara signifikan adalah indikator yang sangat representatif bagi keyakinan ini.
Sebagaimana tertera dalam tabel di samping menunjukkan pergerakan positif, meski dalam taraf moderat. Pasar DKI misalnya, harga jual broiler ex-farm ukuran >1.6Kg., dilaporkan berada di Rp.12.500,-/Kg., atau menaik sebesar Rp.500,- dari minggu lalu. Kenaikan harga jual juga terlihat secara moderat di area pemantauan lain, namun kecenderungan pergerakan variatif mulai nampak. Sangat mungkin, dua minggu mendatang pergerakan harga jual cenderung konsolidatif, pasca kenaikan harga jual secara signifikan minggu lalu. Akan halnya laporan dari pasar luar Jawa menunjukkan pergerakan positif, serta sepanjang Jawa tengah dan timur terpantau menurun tajam.
Berbeda dengan pasar telur Nasional, akhir minggu ini, pergerakan harga jual dilaporkan kembali melemah. Kenaikan harga jual yang terjadi pada sepuluh hari sebelumnya, nampaknya kurang mendapat reaksi meyakinkan dari para pelaku bisnis. Tetapi secara umum, pergerakan harga jual berkecenderungan menaik dalam beberapa pekan kedepan. Laporan dari pasar DKI menyebutkan, harga jual telur ex-farm berada di Rp.10.000,-/Kg., atau menurun Rp.400,- dari minggu sebelumnya. Pergerakan harga jual di sepanjang pasar Jawa tengah, barat, dan timur –yang merupakan faktor penyebab utama bagi pergerakan pasar DKI-- memang menunjukkan penurunan tipis. Pekan depan, diperkirakan harga jual telur masih melanjutkan gerak ketidakpastian dalam rentang yang terbatas. Optimisme pelaku bisnis nampaknya menunggu sentimen positif dari kalender tradisional yang kondusif bagi peningkatan konsumsi di pasar tradisional sepanjang Jawa. Diharapkan, sentimen ini berdampak bagi penguatan harga jual telur di pasar DKI, tetapi tentu harus dibarengi dengan pembatasan stock secara konsisten. Sedangkan pasar Sumatera bertahan cenderung menurun serta Kalimantan-Sulawesi dan Bali yang dilaporkan bergerak bervariasi. Semoga, pekan Imlek kali ini, membawa berkah-sejahtera bagi semua. Gong Xi Fa Choi...