Broiler Turun Tajam dan Telur Moderat (20/3/2010)
Musim panen telah tiba, daya beli masyarakat –utamanya di pedesaan– dipastikan menanjak. Tentu hal ini berdampak pada menaiknya daya serap pasar terhadap broiler maupun telur. Kabar baik ini masih berseiring dengan bergairahnya tanda-tanda pemulihan perekonomian Nasional. Indeks komposit BEI yang mulai mendekati titik puncak sebelum krisis finansial 2008, kian menguatnya nilai tukar Rupiah, serta laporan derasnya arus masuk modal asing di Indonesia.
Akan tetapi untuk minggu ini, harga jual broiler justru tercatat mengalami penurunan tajam dibanding minggu lalu. Penurunan harga jual dilaporkan terjadi secara merata di berbagai area pemantauan. Sekalipun demikian, catatan penting yang mesti ditekankan, penurunan harga jual terkesan tak lebih dari aksi koreksi temporer pasca kenaikan harga jual yang terjadi secara berturut dalam dua minggu sebelumnya. Oleh sebab itu, banyak pelaku bisnis berkeyakinan kenaikan harga jual broiler akan terjadi pada pekan depan. Sementara pada pantauan terakhir minggu ini, harga broiler ex-farm ukuran >1.6Kg., di pasar DKI dilaporkan berada di Rp.12.200,-/Kg., atau menurun sebesar Rp.1.500,- dari minggu lalu. Khusus untuk pasar DKI, laporan penurunan juga dilatari oleh adanya ayam sakit. Penurunan harga jual juga dilaporkan terjadi di pasar sepanjang Jawa dengan beberapa perkecualian. Pasar Sumatera dilaporkan bergerak stabil kuat, Sulawesi dan Kalimantan tercatat bervariasi cenderung menguat serta Bali yang terpantau menurun. Minggu depan, banyak yang meyakini terjadinya kenaikan harga jual broiler secara signifikan.
Penurunan harga jual juga terjadi untuk komoditas telur. Namun penurunan yang terjadi lebih cenderung sebagai koreksi tekhnis. Sebagaimana dilaporkan, di pasar DKI ex-farm, harga jual telur berada di Rp.11.600,-/Kg., atau menurun tipis sebesar Rp.100,- dari minggu sebelumnya. Untuk area pemantauan lainnya, harga jual telur dilaporkan bergerak bervariasi. Tetapi secara umum, banyak yang meyakini, harga jual telur sebagaimana terpantau minggu ini telah membentuk lembah dasar baru dalam tiga minggu terakhir. Hal ini berarti, pada pekan-pekan mendatang, harga jual telur akan cenderung stabil berada di atas harga sekarang dengan kecenderungan naik. Keyakinan ini masih didukung dengan laporan dari berbagai daerah, di mana situasi pasok masih terbatas.
Akan halnya untuk situasi area pemantauan lainnya, pasar sepanjang Sumatera dilaporkan stabil, sebagaimana harga jual di Medan yang tercatat di Rp.650,-/bt., atau sama dengan minggu sebelumnya. Untuk pasar Kalimantan dan Sulawesi, situasi dilaporkan bervariasi cenderung menurun serta Bali yang menurun. Khusus pasar sepanjang Jawa, pasar Jawa timur dilaporkan cenderung bergerak positif, khusus di Blitar di mana harga jual berada di Rp.10.800,-/Kg., atau menurun sebesar Rp.200,- dibanding minggu sebelumnya. Sementara pantauan di pasar Jawa tengah, harga jual dilaporkan cenderung menaik tetapi di Solo justru turun Rp.200,- ke Rp.10.600,- dan Jawa barat tercatat stabil dan bergerak dalam rentang yang sempit. Secara Nasional, pergerakan harga jual menurun terkesan rapuh dan tidak meyakinkan. Oleh karena itu, pekan-pekan ke depan harga jual telur cenderung akan bergerak positif alias naik.